Diarsipkan di bawah: Cerita
Sepandai-pandainya penjaga gawang, suatu hari akan kebobolan juga. Seperti pepatah mengatakan, sepandai-pandainya tupai melombat, suatu hari akan jatuh juga. Mirna akhirnya jatuh. Si tamu berhasil dengan usahanya. Mirna tersedak, sekali lagi, seperti dulu ketika jatuh dari sepeda Ayah. Nafasnya pun berhenti beberapa saat.
Mirna sempat tidak ingat apa-apa. Kesadarannya seperti hilang. Ia betul-betul merasakan panas yang luar biasa. Otot-ototnya seperti dipaksa meregang. Setelah itu…
Ia melihat si tamu terkulai menindih tubuhnya. Nafas si tamu perlahan-lahan mulai normal. Mirna sengaja membiarkan keadaan itu, karena ia juga masih kaget luar biasa. Tidak habis pikir, kenapa koq pertahanan yang sudah demikian bagus ia susun bisa kebobolan. Mirna merasa ada sesuatu mengalir perlahan di pahanya.
“Maaf, tadi saya tidak bisa mengendalikan diri,” kata si tamu setelah membujurkan diri di samping Mirna. Lucu juga tamu ini, pikir Mirna. Sopan betul, pakai minta maaf segala. “Tidak apa-apa koq,” balas Mirna mencoba menenangkan si tamu seperti dulu Anto menenangkan dirinya.
Inilah yang membuat Mirna minta pada Mami Lan untuk tidak menerima tamu untuknya malam itu. Mirna ingin istirahat. Tidak terlalu sakit, sebenarnya. Tamu berbadan kurus semalam itu sebenarnya juga tidak seratus persen mememangkan permainan. Bola itu tidak betul-betul masuk lurus-mulus ke gawang. Mirna ingat Anto ketika i menggoyang-goyangkan tubuh dan pantatnya, bola tendangan lawan melesat ke arah gawang. Tapi, Anto sempat menepisnya meski akhirnya bola itu masuk – dan skor bertambah untuk tim lawan kesebelasan Anto.
Mirna hanya masih merasa syok saja. Beberapa bulan di rumah bordil, ini adalah pengalamannya yang pertama bertemu tamu seperti itu. Tubuh tamu semalam itu masih kerap melesat dalam pikirannya. Mirna sudah melayani macam-macam tamu. Ada yang bertubuh gemuk, ada bertubuh pendek, ada yang bertubuh kekar, ada pula yang bertubuh ringkih. Usianya pun macam-macam. Ada di bawah 20 tahun, ada yang 40-an tahun, bahkan ada yang sudah di atas 50 tahun.
Bertubuh agak kurus, berpunggung agak bengkok, dan mata menjorok ke dalam – memang baru sekali ini dilayani Mirna. Ia bertekad dalam hati, akan lebih hati-hati jika bertemu dengan orang seperti ini.
“Mir, itu ada tamu di kamar,” kata Mami Lan. Dengan rasa enggan, Mirna ke luar dari kamarnya, menuju kamar yang disediakan untuk tamu. Ia coba menenengkan diri dan menepis segala kenangan semalam.
Di kamar, Mirna melihat seorang lelaki duduk di rangjang sambil merokok. Tubuhnya agak kurus, badan agak membungkuk, dan mata agak menjorok ke dalam.***
Diarsipkan di bawah: Cerita
“Ayo dong, dibuka bajunya. Koq malah bengong,” suara tamu itu menyadarkan Mirna. Dengan enggan dan perasaan cemas luar biasa, Mirna menanggalkan satu per satu pakaiannya. Mirna tak berani menatap ke tubuh tamu itu. Tapi, entah apa yang mendorong, sesekali ia mencuri pandang ke selangkangan tamu itu sambil perlahan-lahan menarik ke atas kaus yang dipakainya melewati muka.
“Mati aku,” bathin Mirna. Ia melihat ada yang bergerak, dan semakin mengeras. Ia beranikan melihat ke wajah si tamu. Tamu itu hanya menyeringai kecil. Menanak air, panasi – hanya itu yang diingat Mirna. Ia berjanji dalam hati akan mencoba mempraktikkan apa yang dinasihatkan Mami. Mirna tidak mau pengalaman kesakitan ketika dulu jatuh dari sepeda Ayah kembali terjadi.
Ketika itu Mirna masih remaja. Karena sepeda itu memiliki sebuah batang yang menghubungkan besi di bawah tempat duduk dan stir, kejatuhan itu membuat selangkangan Mirna berdarah. Ia terbentur batang sepeda itu. Mirna ingat ia sempat tersedak dan tidak bernafas beberapa detik. Sakitnya luar biasa, seperti ada benda berat dan besar ditindihkan paksa ke tubuhnya.
Dibanding pengalamannya dengan Anto, Mirna merasa jauh lebih sakit jatuh dari sepeda Ayah. Anto ketika itu masih sabar membujuk dan menenangkan kecemasan Mirna. Ketika jatuh dari sepeda, tidak ada siapa-siapa di sana. Mirna sendirian di jalan pematang sawah yang agak becek karena tadi malam hujan turun.
Mirna bersyukur, tamu berbadan kurus itu tidak terlalu memaksa. Ketika Mirna melakukan tugasnya, tamu itu kelihatan senang-senang saja. Mirna terus mencoba memegang kendali. Tidak sedetik pun ia beri kesempatan pada si tamu untuk mengambil inisiatif. Mirna sendiri mencoba mendesah seolah-olah ia memang menginginkan permainan itu. Sesekali Mirna mendengar dengus suara ke luar dari hidung si tamu.
Pernah, di tengah permainan itu, si tamu mencoba mengambil kendali dengan menarik lengan Mirna dan mencoba memeluknya. Tapi, dengan halus sembari melempar senyum, Mirna menghalau tangan itu. Sekali lagi si tamu mencoba dan menarik agak keras, Mirna tetap bisa menghindar. Yang tidak bisa dan luput dari pertahanan Mirna adalah ketika sontak si tamu sigap dan cepat membalik tubuh Mirna. Tiba-tiba saja tubuhnya sudah berada di bawah dan ditindih oleh si tamu.
“O, tanak. O, air. O, api. Cepatlah bakar. Cepatlah bakar. Cepatlah mendidih,” Mirna membathin setengah berdoa. Si tamu terlihat seperti kesetanan, setengah sadar. Matanya setengah terpejam. Bahkan terlihat seperti histeris sambil terus mendengus keras dan cepat. Mirna ingat Anto di kampung yang, ketika dulu bermain sepakbola, bertindak sebagai penjaga gawang. Waktu itu tendangan pinalti. Sebelum bola ditendang lawan, Mirna ingat, Anto menggoyang-goyangkan pantat dan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Mirna pun melakukan hal sama.***
Diarsipkan di bawah: Cerita
Mirna sudah bilang pada Mami Lan tadi siang, malam ini ia tidak usah dicarikan tamu. Mirna ingin istirahat untuk sebuah sebab yang terjadi semalam. Tapi Mami Lan mengingatkan Mirna, besok pagi adalah tanggal jatuh tempo bagi Mirna untuk membayar cicilan utangnya. Mami tidak mau lagi ada penundaan pembayaran. Yang sudah-sudah, kata Mami pada Mirna, membuat arus keuangannya menjadi kacau.
Mirna tadinya enggan menceritakan pada Mami apa yang dialaminya semalam. Ia merasa malu. Ia merasa cukuplah dia saja yang tahu. Tapi, karena Mami mendesak agar Mirna tetap menerima tamu malam nanti, Mirna menceritakan apa yang dia alami semalam. Mirna berharap dengan cerita ini Mami bisa mengerti, dan, ia diberi waktu semalam saja untuk istirahat — untuk tidak menerima tamu..
“Itu biasa Mir. Lebih parah dari itu pernah dialami si Linda,” tanggap Mami, enteng saja. Mirna memang mencoba menganggap itu biasa saja. Dia percaya perlahan-lahan pengalaman menakutkan itu juga akan sirna seperti dulu dia mengalaminya ketika pertama kali melakukan dengan Anto, pacarnya, di kampung. Tapi, semakin ia coba menganggap itu biasa saja semakin pengalaman semalan itu menjadi luar biasa.
Tamu semalam badannya agak kurus. Sedikit membungkuk. Tingginya sedang. Usianya kira-kira 30-an tahun. Mirna tidak pernah bertanya tentang hal-hal seperti ini pada tamunya. Ia cuma mengira-ngira. Tamu itu sudah ada di kamar yang berukuran tiga kali tiga meter itu. Penerangan listrik dengan bola lampu sepuluh watt sudah cukup buat Mirna untuk mengenali wajah si tamu. Hidungnya agak mancung. Matanya agak menjorok ke dalam. Mirna ingat, ketika baru saja masuk kamar, tamu itu hanya berucap,”Hallo, apa kabar?”
Setelah itu, terjadilah. Mirna kaget luar biasa. Bagaimana bisa badan sekurus itu harus memanggul benda sebesar itu. Mirna sempat diam sesaat, tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ketika itu, si tamu baru saja menanggalkan pakaiannya. “Masya Allah,” ucap Mirna spontan. Bagaimana ini, bagaimana ini nanti?, bathin Mirna berkata. Ingin rasanya ia segera ke luar dari kamar itu. Ia ingin menemui Mami untuk mencari pengganti dirinya. Tapi, seperti pengalaman pertama, ketika ia melayani tamu pertama di rumah bordil itu, Mami pasti murka.
Mirna ingat nasihat Mami, ketika itu. “Sudahlah. Tidak akan terjadi apa-apa. Lakukan banyak foreplay. Biarkan tamu bertarung dengan dirinya sendiri tanpa dia harus menginvasi dirimu. Setelah memuncak, baru beri peluang. Dan, itu terjadi tak lebih beberapa detik”. Terus terang ada beberapa kata dari mulut Mami itu yang tidak ia mengerti. Karena itu, sesekali dahi Mirna mengernyit. Mami tahu itu.
“Di kampung, kau pernah menanak air, bukan? Kalau air itu kau isi penuh, lalu kau panasi dengan kayu bakar yang kering dan banyak, air itu akan cepat mendidih – dan pada puncaknya air itu akan meluber dan jatuh dari tabung tempat menanak, ke luar membasahi kayu bakar, apinya kemudian padam, bukan,” papar Mami.***
Diarsipkan di bawah: Cerita
Rama masih terus mencoba mengangkat tangannya setiap kali mobil akan melintas di hadapannya. Dia tahu posisinya memang tidak strategis untuk mendapatkan pengguna jasa tubuhnya. Emaknya pernah bilang, kalau mau “dapat mobil” harus ambil posisi di tengah, jangan di kedua ujung jalan dekat lampu merah. Di persimpangan jalan selalu ada polisi berdiri. Pengendera mobil biasanya takut mengajakmu jika ada polisi.
Tapi, senja yang terus merambat itu tak lagi memberi waktu buat Rama berganti posisi. Posisi yang sekarang ia peroleh pun ia dapatkan dengan susah payah. Tadi sore ketika tiba di tempat itu, ia sudah ingat kata-kata Emak. Rama mengambil posisi di tengah dari deretan jalan. Tapi, baru saja ia berdiri, seorang pria kurus bertato mengusirnya.
“Heh, jangan berdiri di situ,” bentak pria itu membuat Rama kecut. Rama tidak tahu kenapa ia tak boleh berdiri di situ. Tapi melihat tampang sangar pria itu, hati Rama ciut dan tak sedikit pun ada keberanian dalam dirinya untuk bertanya dan protes. Rama menuruti saja perintah pria itu. Ia mencoba berjalan ke arah lampu merah, menggeser posisinya menjauh dari pria berambut acak-acakan itu. Baru saja beberapa meter berhenti, mengira ini adalah posisi terbaik, seorang perempuan setengah tua menghardiknya.
Posisi di dekat lampu merah membuat tak sekali pun pengendara mobil berani memakai jasa Rama. Dengan kaki yang mulai goyah dan tangan terasa berat, Rama terus saja mencoba mengangkat dan melambaikan tangannya setiap kali mobil akan melintas di depannya. Rasa putus asa dan sedih menggelayuti hatinya. Rama ingat dua adik kecilnya di rumah rewot di pinggir kali. Ia ingat Emak. Rama merasa dunia agak gelap, matanya mulai berkunang-kunang. Ia tahu ini bukan hanya karena lapar yang menyergapnya lantaran sejak siang belum makan. Tapi, rasa cemas dan gelisah juga ikut andil di dalamnya.
Tanpa terasa air mata mulai mengalir di pelupuk mata Rama. Tapi bersamaan dengan itu pula ia dikagetkan sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya. Rama masih bengong, terpana. Sempat beberapa detik ia tidak bereaksi.
“Ayo cepat. Ada polisi,” kata seorang pria yang duduk di samping sopir sembari buru-buru membukakan pintu mobil bagian tengah. “Ayo!” teriak pria itu lagi melihat Rama masih tak bereaksi. Sontak Rama berlari dan meloncat ke dalam mobil.
Di dalam mobil yang berudara sejuk dan wangi itu Rama hanya diam. Ia ingat Emak yang kemarin “diangkut” petugas Satuan Polisi Pamong Praja. Ia ingat dua adik kecilnya. Tapi ia juga sedikit merasa senang. Sebentar lagi ia akan mendapat uang. Ia akan bawa makanan nasi bungkus buat dua adik kecilnya.
“Kenapa koq seperti orang bingung,” terdengar suara dari seorang pria yang duduk di samping sopir. Pria itu dari tadi, sejak Rama duduk di mobil, memperhatikan dirinya melalui kaca spion di bagian atas mobil. “Saya takut Pak,” kata Rama.***