Manusia Perbatasan


Sudah Mati, Masih “Nyusahin”
Desember 1, 2008, 5:29 pm
Diarsipkan di bawah: Refleksi

 

Jalan Saharjo, Jakarta. Suatu siang. Bersama sopir, aku mengendarai mobil dari arah Manggarai menuju Pancoran. Jalan yang tak terlalu lebar itu agak macet. Kendaraan Metromini dan angkot berhenti seenaknya menurunkan dan menaikkan penumpang. Kemacetan bertambah parah karena beberapa mobil pribadi juga diparkir sembarangan di bahu jalan.

 

Dengan pelan dan penuh hati-hati, sopir kendaraanku mencoba mengambil jalan arah kanan melewati Metromini yang mendadak berhenti. Sontak dari belakang datang serombongan pria berkendaraan sepeda motor. Mereka membawa bendera kuning kecil terbuat dari kertas. Seorang yang dibonceng sepeda motor tiba-tiba memukul badan kanan mobil yang kukendarai. Mata pria itu terlihat melotot. Dia mengacung-acungkan bendera itu sambil membuka tutup mulutnya. Aku tak bisa mendengar apa yang ia katakan.

 

Setelah si sopir berhasil menuruti perintah lelaki itu, kulihat semakin banyak orang dalam rombongan sepeda motor. Di belakang mereka ada mobil bak terbuka. Di atasnya ada keranda mayat ditutup kain hijau dengan hiasan aksara Arab. Mereka ternyata tengah mengantarkan orang yang sudah mati menuju pemakaman. Dari jalan Saharjo memang ada dua makam yang agak dekat: makam Pejompongan dan makam Karet.

 

Aku tidak tahu siapa yang sudah mati itu. Aku tak tahu kenapa ia mati. Aku pun tak tahu apa profesi dan pekerjaannya ketika hidup. Aku juga tak tahu apakah dia tokoh atau anggota masyarakat biasa. Tapi melihat begitu banyak orang yang mengantarkannya ke liang kubur, aku pikir pastilah dia punya banyak saudara atau simpatisan atau pengikut.

 

Yang membuat aku jadi bertanya-tanya adalah apa hak orang-orang yang mengantarkan mayat itu merebut hak orang lain di jalan raya? Siapa yang memberi kekuasaan pada mereka sehingga bisa secara sewenang-wenang memukul mobil orang lain dan memerintahkan orang lain untuk memberinya jalan?

 

Aku hanya berharap semoga mayat yang mereka antarkan itu, semasa hidup, memang telah berbuat banyak untuk sesama. Tapi bagaimana kalau dia  tidak berbuat apa-apa untuk kepentingan orang banyak? Atau, malah sebaliknya, selama hidup ia justru membuat susah banyak orang di sekitarnya? Berarti orang ini,  sudah mati pun masih merugikan dan menyusahkan orang lain.

 

Dia sudah pasti tidak tahu perbuatan tercela orang-orang yang mengantarkannya ke liang kubur itu. Lha, dia sudah mati! Yang aku sayangkan, kalaulah yang mati itu adalah orang saleh, sebenarnya ia sungguh tersiksa melihat perilaku para pengantarnya itu.

 

Jadi, soalnya memang pada orang yang masih hidup. Pertanyaannya, apakah ketika hidup, ketika dia belum menjadi mayat, orang-orang yang mengantarkannya dengan gegap gempita ke pemakaman itu juga memuliakannya? Kalau tidak, berarti kita rupanya lebih memuliakan orang mati daripada orang hidup. Masya Allah!***


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>