Manusia Perbatasan


Lonte (2)
November 19, 2008, 7:59 am
Diarsipkan di bawah: Cerita

 

“Ayo dong, dibuka bajunya. Koq malah bengong,” suara tamu itu menyadarkan Mirna. Dengan enggan dan perasaan cemas luar biasa, Mirna menanggalkan satu per satu pakaiannya. Mirna tak berani menatap ke tubuh tamu itu. Tapi, entah apa yang mendorong, sesekali ia mencuri pandang ke selangkangan tamu itu sambil perlahan-lahan  menarik ke atas kaus yang dipakainya melewati muka.

 

“Mati aku,” bathin Mirna. Ia melihat ada yang bergerak, dan semakin mengeras. Ia beranikan melihat ke wajah si tamu. Tamu itu hanya menyeringai kecil. Menanak air, panasi – hanya itu yang diingat Mirna. Ia berjanji dalam hati akan mencoba mempraktikkan apa yang dinasihatkan Mami. Mirna tidak mau pengalaman kesakitan ketika dulu jatuh dari sepeda Ayah kembali terjadi.

 

Ketika itu Mirna masih remaja. Karena sepeda itu memiliki sebuah batang yang menghubungkan besi di bawah tempat duduk dan stir, kejatuhan itu membuat selangkangan Mirna berdarah. Ia terbentur batang sepeda itu. Mirna ingat ia sempat tersedak dan tidak bernafas beberapa detik. Sakitnya luar biasa, seperti ada benda berat dan besar ditindihkan paksa ke tubuhnya.

 

Dibanding pengalamannya dengan Anto, Mirna merasa jauh lebih sakit jatuh dari sepeda Ayah. Anto ketika itu masih sabar membujuk dan menenangkan kecemasan Mirna. Ketika jatuh dari sepeda, tidak ada siapa-siapa di sana. Mirna sendirian di jalan  pematang sawah yang agak becek karena tadi malam hujan turun.

 

Mirna bersyukur, tamu berbadan kurus itu tidak terlalu memaksa. Ketika Mirna melakukan tugasnya, tamu itu kelihatan senang-senang saja. Mirna terus mencoba memegang kendali. Tidak sedetik pun ia beri kesempatan pada si tamu untuk  mengambil inisiatif. Mirna sendiri mencoba mendesah seolah-olah ia memang menginginkan permainan itu. Sesekali Mirna mendengar dengus suara ke luar dari hidung si tamu.

 

Pernah, di tengah permainan itu, si tamu mencoba mengambil kendali dengan menarik lengan Mirna dan mencoba memeluknya. Tapi, dengan halus sembari melempar senyum, Mirna menghalau tangan itu. Sekali lagi si tamu mencoba dan menarik agak keras, Mirna tetap bisa menghindar. Yang tidak bisa dan luput dari pertahanan Mirna adalah ketika sontak si tamu  sigap dan cepat membalik tubuh Mirna. Tiba-tiba saja tubuhnya sudah berada di bawah dan ditindih oleh si tamu.

 

“O, tanak. O, air. O, api. Cepatlah bakar. Cepatlah bakar. Cepatlah mendidih,” Mirna membathin setengah berdoa. Si tamu terlihat seperti kesetanan, setengah sadar. Matanya setengah terpejam. Bahkan terlihat seperti histeris sambil terus mendengus  keras dan cepat. Mirna ingat Anto di kampung yang, ketika dulu bermain sepakbola, bertindak sebagai penjaga gawang. Waktu itu tendangan pinalti. Sebelum bola ditendang lawan, Mirna ingat, Anto menggoyang-goyangkan pantat dan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Mirna pun melakukan hal sama.***

 

 


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>