Diarsipkan di bawah: Cerita
Mirna sudah bilang pada Mami Lan tadi siang, malam ini ia tidak usah dicarikan tamu. Mirna ingin istirahat untuk sebuah sebab yang terjadi semalam. Tapi Mami Lan mengingatkan Mirna, besok pagi adalah tanggal jatuh tempo bagi Mirna untuk membayar cicilan utangnya. Mami tidak mau lagi ada penundaan pembayaran. Yang sudah-sudah, kata Mami pada Mirna, membuat arus keuangannya menjadi kacau.
Mirna tadinya enggan menceritakan pada Mami apa yang dialaminya semalam. Ia merasa malu. Ia merasa cukuplah dia saja yang tahu. Tapi, karena Mami mendesak agar Mirna tetap menerima tamu malam nanti, Mirna menceritakan apa yang dia alami semalam. Mirna berharap dengan cerita ini Mami bisa mengerti, dan, ia diberi waktu semalam saja untuk istirahat — untuk tidak menerima tamu..
“Itu biasa Mir. Lebih parah dari itu pernah dialami si Linda,” tanggap Mami, enteng saja. Mirna memang mencoba menganggap itu biasa saja. Dia percaya perlahan-lahan pengalaman menakutkan itu juga akan sirna seperti dulu dia mengalaminya ketika pertama kali melakukan dengan Anto, pacarnya, di kampung. Tapi, semakin ia coba menganggap itu biasa saja semakin pengalaman semalan itu menjadi luar biasa.
Tamu semalam badannya agak kurus. Sedikit membungkuk. Tingginya sedang. Usianya kira-kira 30-an tahun. Mirna tidak pernah bertanya tentang hal-hal seperti ini pada tamunya. Ia cuma mengira-ngira. Tamu itu sudah ada di kamar yang berukuran tiga kali tiga meter itu. Penerangan listrik dengan bola lampu sepuluh watt sudah cukup buat Mirna untuk mengenali wajah si tamu. Hidungnya agak mancung. Matanya agak menjorok ke dalam. Mirna ingat, ketika baru saja masuk kamar, tamu itu hanya berucap,”Hallo, apa kabar?”
Setelah itu, terjadilah. Mirna kaget luar biasa. Bagaimana bisa badan sekurus itu harus memanggul benda sebesar itu. Mirna sempat diam sesaat, tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ketika itu, si tamu baru saja menanggalkan pakaiannya. “Masya Allah,” ucap Mirna spontan. Bagaimana ini, bagaimana ini nanti?, bathin Mirna berkata. Ingin rasanya ia segera ke luar dari kamar itu. Ia ingin menemui Mami untuk mencari pengganti dirinya. Tapi, seperti pengalaman pertama, ketika ia melayani tamu pertama di rumah bordil itu, Mami pasti murka.
Mirna ingat nasihat Mami, ketika itu. “Sudahlah. Tidak akan terjadi apa-apa. Lakukan banyak foreplay. Biarkan tamu bertarung dengan dirinya sendiri tanpa dia harus menginvasi dirimu. Setelah memuncak, baru beri peluang. Dan, itu terjadi tak lebih beberapa detik”. Terus terang ada beberapa kata dari mulut Mami itu yang tidak ia mengerti. Karena itu, sesekali dahi Mirna mengernyit. Mami tahu itu.
“Di kampung, kau pernah menanak air, bukan? Kalau air itu kau isi penuh, lalu kau panasi dengan kayu bakar yang kering dan banyak, air itu akan cepat mendidih – dan pada puncaknya air itu akan meluber dan jatuh dari tabung tempat menanak, ke luar membasahi kayu bakar, apinya kemudian padam, bukan,” papar Mami.***
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
Komentar oleh lintasmarketing November 17, 2008 @ 4:30 pmKami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!
Tapi, bagaimana kalau apinya ternyata lama padam, benda panjang yg menjuntai itu pastilah menyakiti kelamin Mirna. Soal ukuran, ternyata memang problem. Terlalu kecil, dianggap lemah. Kebesaran, dianggap bencana. Kasihan Mirna, demi uang, harus ia relakan dirinya disakiti: batin dan daging.
Komentar oleh suhunan situmorang November 18, 2008 @ 6:28 pmRefleksi saya “MIRNA ” dalam artikel ini adalah korban dari ketidakadilan sebuah sistem. Sistem perekonomian yang jelas memang tidak akan pernah berpihak kepada rakyat kecil. Padahal sang
Mirnapun ( baca : Rakyat jelata ) justru berfungsi sebagai pondasi dari kemapanan ekonomi. Yang tak bisa beristirahat sejenak dari
penindasan. Karena label yang diberi masyarakat sebagai “sampah masyarakat” dan “kaum berdosa” . Maka lagi-lagi ” Mirna ” harus segera diabaikan.Dan kita pun tak mampu lagi untuk menghargai sebuah proses. Kepekaan kita terhadap sesama sudah hilang karena ketidakadilan dan penindasan sudah pula menjadi biasa.
Sosok ” Mami Lan ” jangan – jangan sama seperti kita juga , sadar atau tidak sadar kitapun sering menindas saudara atawa sesama , ketika “urusan perut”(Baca:cashflow)terancam tidak stabil dan lebih penting.
Kalau begitu , berarti ” MIRNA ” ( baca : Rakyat Jelata ) sendiri harus melakukan kreatifitas dan pembelajaran sebagai praksis pembebasan dari ketidakadilan yang menindasnya. Proses ini harus menjadi uluran keprihatinan kita yang tak melulu “merias agama” untuk mengambil bagian
sebagai fasilitator dan mediator ditengah
kesibukan kita sebagai wartawan , penyiar ,
karyawan , apa saja. Memulai dari awal : yakni kepekaan terhadap hal penindasan disekitar kita adalah awal yang baik.
Pambudi Nugroho
Andaikan nanti ” MIRNA” menjadi Tua dan reyot , tentu saja tidak seenak dulu. Tapi proses goyangannya telah menoreh catatan diatas kertas abu-abu bahwa atas penderitaannya ia sudah memberikan kenikmatan bagi sesama untuk berproses.
Komentar oleh Pambudi Nugroho Januari 14, 2009 @ 11:03 am