Diarsipkan di bawah: Cerita
Rama masih terus mencoba mengangkat tangannya setiap kali mobil akan melintas di hadapannya. Dia tahu posisinya memang tidak strategis untuk mendapatkan pengguna jasa tubuhnya. Emaknya pernah bilang, kalau mau “dapat mobil” harus ambil posisi di tengah, jangan di kedua ujung jalan dekat lampu merah. Di persimpangan jalan selalu ada polisi berdiri. Pengendera mobil biasanya takut mengajakmu jika ada polisi.
Tapi, senja yang terus merambat itu tak lagi memberi waktu buat Rama berganti posisi. Posisi yang sekarang ia peroleh pun ia dapatkan dengan susah payah. Tadi sore ketika tiba di tempat itu, ia sudah ingat kata-kata Emak. Rama mengambil posisi di tengah dari deretan jalan. Tapi, baru saja ia berdiri, seorang pria kurus bertato mengusirnya.
“Heh, jangan berdiri di situ,” bentak pria itu membuat Rama kecut. Rama tidak tahu kenapa ia tak boleh berdiri di situ. Tapi melihat tampang sangar pria itu, hati Rama ciut dan tak sedikit pun ada keberanian dalam dirinya untuk bertanya dan protes. Rama menuruti saja perintah pria itu. Ia mencoba berjalan ke arah lampu merah, menggeser posisinya menjauh dari pria berambut acak-acakan itu. Baru saja beberapa meter berhenti, mengira ini adalah posisi terbaik, seorang perempuan setengah tua menghardiknya.
Posisi di dekat lampu merah membuat tak sekali pun pengendara mobil berani memakai jasa Rama. Dengan kaki yang mulai goyah dan tangan terasa berat, Rama terus saja mencoba mengangkat dan melambaikan tangannya setiap kali mobil akan melintas di depannya. Rasa putus asa dan sedih menggelayuti hatinya. Rama ingat dua adik kecilnya di rumah rewot di pinggir kali. Ia ingat Emak. Rama merasa dunia agak gelap, matanya mulai berkunang-kunang. Ia tahu ini bukan hanya karena lapar yang menyergapnya lantaran sejak siang belum makan. Tapi, rasa cemas dan gelisah juga ikut andil di dalamnya.
Tanpa terasa air mata mulai mengalir di pelupuk mata Rama. Tapi bersamaan dengan itu pula ia dikagetkan sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya. Rama masih bengong, terpana. Sempat beberapa detik ia tidak bereaksi.
“Ayo cepat. Ada polisi,” kata seorang pria yang duduk di samping sopir sembari buru-buru membukakan pintu mobil bagian tengah. “Ayo!” teriak pria itu lagi melihat Rama masih tak bereaksi. Sontak Rama berlari dan meloncat ke dalam mobil.
Di dalam mobil yang berudara sejuk dan wangi itu Rama hanya diam. Ia ingat Emak yang kemarin “diangkut” petugas Satuan Polisi Pamong Praja. Ia ingat dua adik kecilnya. Tapi ia juga sedikit merasa senang. Sebentar lagi ia akan mendapat uang. Ia akan bawa makanan nasi bungkus buat dua adik kecilnya.
“Kenapa koq seperti orang bingung,” terdengar suara dari seorang pria yang duduk di samping sopir. Pria itu dari tadi, sejak Rama duduk di mobil, memperhatikan dirinya melalui kaca spion di bagian atas mobil. “Saya takut Pak,” kata Rama.***
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>