Diarsipkan di bawah: Refleksi
Sebagian orang yang tinggal di kota besar, kini punya moto. Bunyinya demikian: bekerjalah secara keras, kemudian bersenang-senang pula sampai puas. Dalam praktik sehari-hari moto ini diterjemahkan sebagai bekerja optimal, bila perlu tak kenal waktu, pergi dini pulang larut. Pendeknya, kumpulkan uang sebanyak mungkin. Tapi, setelah uang terkumpul, eh jangan lupa: habiskan dengan bersenang-senang sampai puas.
Tidak aneh jika tempat-tempat hiburan di kota-kota besar, terutama di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makasar terus tumbuh – bahkan mengalahkan laju pertumbuhan gedung-gedung sekolah. Berbagai peristiwa pertunjukan pun marak diselenggarakan, mulai musik, tari, teater, pameran lukisan, hingga film. Tapi yang paling pesat pertumbuhannya adalah kafe, klub, diskotek, dan restoran. Bersamaan dengan ini, berbagai pusat perbelanjaan seperti mal, supermarket, pun berdiri seolah tidak mau kalah.
Moto hidup yang dipegang kelas menengah perkotaan ini bisa dilihat pada berbagai acara televisi. Ada televisi di Jakarta yang bersiaran lokal bahkan memberi nama sebuah program acaranya “work hard, play hard”. Televisi yang bersiaran secara nasional tak kalah banyaknya menyiarkan program acara yang memotret tingkah-laku kelas menengah ini. Di layar televisi, tampak mereka berkumpul menghadiri sebuah pertunjukan musik atau bergoyang diiringi pemandu musik (disc jockey) yang tengah beraksi.
Pada sebagian acara televisi bahkan kita bisa melihat anak-anak muda baik pria maupun wanita bergoyang dengan mata setengah tertutup – menggambarkan orangnya setengah mabuk atau mabuk berat. Di tangan orang-orang itu biasanya ada gelas yang berisi minuman. Menilik warnanya sebagian pastilah itu minuman keras. Si wanita muda tak segan-segan diperlihatkan bergoyang sambil merokok, bahkan berpeluk-pelukan dengan pria muda.
Moto yang disebar secara masif oleh media, termasuk media cetak dan radio, ini memang telah berhasil mengubah perilaku generasi muda kelas menengah perkotaan. Terlihat betapa senang mereka dengan kehidupan barunya. Melalui mereka kita diperlihatkan betapa hidup memang mudah dan menyenangkan. Dengan wajah yang sumringah dan pakaian megah, pada diri mereka kita melihat Indonesia adalah sebuah negara cukup modern dan maju – sama seperti negara-negara lain yang memang benar-benar maju.
Tapi, kalau kita cermati lebih jauh, semua ini sebenarnya semu. Anak-anak muda yang tampak makmur dan bahagia itu hanya gambaran sebagian kecil masyarakat Indonesia. Bagian lebih besar anak-anak muda Indonesia hidup dalam kemiskinan, putus sekolah, menganggur, dan cemas serta gelisah menjalani hidupnya.
Anak-anak muda yang bersenang-senang sampai puas itu pun sesungguhnya belum tentu adalah pekerja keras. Sebagian dari mereka bisa melakukan semua itu karena memakai uang orangtuanya. Tapi, apa pun alasannya, sistem kapitalisme yang kini melingkupi hidup kita telah berhasil menjadikan anak-anak muda itu sebagai konsumen.***
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>