Diarsipkan di bawah: Refleksi
Teknologi transportasi, komunikasi, dan informasi terus berkembang. Inter-relasi dan interaksi antarmanusia di muka bumi pun meluas dan mendalam, tapi juga dangkal. Orang kini mudah berpindah dari satu negara ke negara lain, dari satu daerah ke daerah lain, dari satu lokasi ke lokasi lain. Orang juga kini mudah saling kontak satu sama lain. Setiap hari berjuta-juta informasi berseliweran dan setiap orang mega-megap berusaha menggapainya.
Makin hari makin banyak saja kita temukan anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan antar-ras, antar-suku, antar-agama, dan antar-golongan. Anak-anak hibrida ini mengalami kesulitan jika ditanya apa ras atau apa sukunya. Mereka tidak suka digolong-golongkan berdasarkan ras, suku, atau agama. Mereka ingin melampaui semua itu. Mereka lebih suka disebut atau menyebut diri sebagai manusia kosmopolitan. Manusia yang berpandangan luas dan terbuka, tidak terikat atau mau diikat oleh seduah identitas yang ajeg.
Bersamaan dengan situasi sosial baru ini, berkembang juga arah sebaliknya. Ada orang atau kelompok yang justru berusaha makin menguatkan identitasnya. Ada yang mencoba mencari pendasarannya pada ras, suku, bangsa, ada juga pada agama. Semua ini sebenarnya sah-sah saja, karena sudah menjadi kodrat manusia untuk hidup berkelompok. Untuk mengikat rasa berkelompok, manusia membutuhkan identitas – untuk membedakannya dengan kelompok lain.
Menjadi masalah ketika identitas dipahami sebagai sesuatu yang statis, tunggal, dan superior. Di sini identitas menjadi faktor pemecah-belah. Mereka sulit menerima kehadiran yang lain (the other, liyan). Bahkan, mereka yang menjadikan identitas statis menjadi penentu eksistensi diri tak segan-segan melakukan tindak kekerasan hanya sekadar untuk meneguhkan superioritas diri atau kelompoknya.
Perkembangan atau kemajauan teknologi transportasi, komunikasi, dan informasi tidak dengan sendirinya memudahkan lahirnya saling pengertian di antara diri individu dan kelompok. Problem manusia masa kini adalah bagaimana secara terus-menerus mengembangkan pengetahuan tentang situasi sosial baru, dan bagaimana mengembangkan keterampilan berkomunikasi agar kehidupan bersama bisa berjalan penuh pengertian, saling menghormati, saling bertoleransi. Hanya dengan semua ini kehidupan damai di muka bumi bisa diwujudkan.
Kita sebenarnya adalah manusia perbatasan. Kita senantiasa hidup di batas identitas. Sepanjang kita masih hidup bermasyarakat, sepanjang itu pula kita tidak pernah selesai dengan satu identitas. Sesungguhnya, kita sebagai individu memiliki banyak identitas dan hidup bersama orang lain yang juga memiliki banyak identitas. Kita sebenarnya tidak perlu harus menyelesaikan semua paradoks ini dengan buru-buru merangkul satu identitas yang ajeg, tunggal, apalagi dipahami superior.***
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Akhirnya dirilis juga blog pribadinya Mas …..
Komentar oleh alvan November 12, 2008 @ 10:11 am